Tuesday, April 13, 2010

Bahaya Mengguna Perantaraan dalam Ibadah dan Doa

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/Makam-Ali.jpg&h=235&w=355&zc=1

Di antara bentuk pembatal keislaman adalah syirik terhadap Allah dalam beribadah dan berdoa. Salah satu bentuknya adalah berkorban dan berdoa kepada selain Allah.

Seseorang yang berbuat syirik dalam ibadah tidak lepas dari tiga kondisi:

Pertama, dia meyakini bahwa orang yang dituju dalam doa punya kekuasaan tersendiri yang lepas dari kendali Allah 'Azza wa Jalla. Keyakinannya sampai pada tingkat bahwa sesembahannya tadi berhak dituju dalam doa dan diminta bantuannya yang menjadi kekhususan Allah 'Azza wa Jalla. Baik dia meyakini dia itu adalah Allah atau dia mengingkari wujud Allah dan meyakini ada tuhan selain-Nya. Contohnya, orang menyembah Namrud, Fir'aun dan orang semisal mereka yang mengingkari wujud Allah sambil meyakini tuhannya itu satu-satunya tuhan yang layak disembah.

Kedua, Dia meyakini bahwa sesembahannya itu menjadi sekutu bagi Allah dan berhak dituju dalam doa bersama Allah, lalu dia berdoa kepadanya. Contohnya, orang yang berdoa kepada Isa 'alaihis salam dan ibunya.

Ketiga, dia meyakini bahwa sesembahan itu bukan menjadi sekutu bagi Allah, dan boleh jadi dia meyakininya sebagai hamba Allah yang shaleh. Tapi dia hanya menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Perbuatan ini seperti yang dilakukan sebagian musyrikin jahiliyah yang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diutus ketengah-tengah mereka.

Kondisi pertama dan kedua termasuk perkara syirik yang membatalkan keislaman. Sedangkan bentuk ketiga sebagian orang memandangnya bukan sebagai kesyirikan, bahkan termasuk amal ibadah dengan memuliakan orang shalih. Padahal secara hakikat ini termasuk kesyirikan yang membatalkan keislaman. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad al Tamimi dalam risalahnya, "Nawaqidl al Islam" (pembatal-pembatal keislaman).

Beliau rahimahullah menyebutkan sepuluh pembatal keislaman. Beliau menempatkan syirik sebagai pembatal Islam pertama. Sedangkan yang kedua beliau sebutkan, "orang yang menjadikan sesuatu sebagai perantara (antara dirinya dengan Allah) yang dia berdoa kepada mereka dan juga kepada Allah, beristighatsah dan bertawakkal kepadanya." Dan menurut ijma’ ulama, orang yang melakukan hal itu adalah kafir.

Syaikh Tamimi menyebutkannya secara khusus karena banyaknya orang yang terfitnah dengan syirik bentuk ini. Pembatal keislaman ini juga sering dilakukan orang-orang yang menisbatkan dirinya sebagai muslim tanpa merasa berbuat syirik. Mereka itu telah berbuat syirik dalam uluhiyah, bukan dalam rububiyyah. Bentuknya memberikan ibadah kepada selain Allah.

Al-Qur'an telah menceritakan kesyirikan bentuk ini ketika Allah membongkar kesalahan kaum musyrikin.

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"." (QS. Al Zumar: 3)

Kaum musyrikin zaman ini yang menyembah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, para wali dan orang-orang shalih serta berdoa kepada mereka berargumen dengan alasan ini. Mereka juga menjawab bahwa ayat di atas berkaitan dengan orang-orang yang berdoa kepada berhala-berhala dari batu yang tidak bisa menimpakan kesulitan dan tidak pula kuasa mendatangkan kebaikan. Hal ini berbeda dengan orang yang berdoa kepada orang-orang shalih, para wali, dan orang-orang bertakwa.

Dan Allah telah menjawab syubuhat ini dengan sangat jelas dan menerangkan bahwa perilaku mereka pernah juga dilakukan oleh umat-umat sebelumnya. Allah Ta'ala berfirman,

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلا تَحْوِيلاً * أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ

"Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya". Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya; sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (QS. Al-Israa': 56-57)

Allah menjelaskan dengan menjadikan orang musyrikin sebagai lawan bicara, bahwa orang-orang yang disembah oleh orang musyrikin adalah para muwahhidin (ahli tauhid) yang berdoa kepada Allah, berharap rahmat-Nya dan takut terhadap adzab-Nya. Dan Allah menyucikan mereka dalam ayat ini dengan menjelaskan bahwa mereka yang disembah selain Allah adalah para wali-Nya yang ikhlas beribadah kepada-Nya dan bukan patung dari batu atau pohon korma. Walau demikian, Allah tetap menyebut para penyembahnya sebagai orang musyrik, seperti orang yang menyembah batu dan pohon.

Kaum musyrikin dalam menjadikan perantara berargumen bahwa mereka tidak menyembah sesembahan-sesembahan mereka kecuali agar mendekatkan diri mereka kepada Allah. Berarti kesyirikan ini mengandung dua hal:

Pertama, para sesembahan memiliki kemuliaan dan kedudukan terhormat di sisi Allah yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

Kedua, orang-orang yang berdoa membutuhkan para perantara yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah, dikarenakan para perantara tadi memiliki kedudukan yang dekat dengan-Nya.

Begitu juga yang dilakukan kaum musyrikin masa sekarang. Mereka berdoa kepada para wali dan orang shalih dengan beralasan, "mereka adalah orang-orang shalih yang tidak mungkin Allah menolak permintaan mereka. Sedangkan aku orang yang banyak dosa, yang doaku tidak layak dikabulkan. Karenanya, aku berdoa kepada wali ini agar doaku dikabulkan dengan kemuliaannya ketika dia berdoa kepada Allah supaya mengabulkan permintaanku." Fenomena ini mengungkap dua hal: yang dituju dengan doa memiliki kemuliaan di sisi Allah dan orang yang berdoa membutuhkan sesembahan yang dituju dengan doa tadi karena kedudukannya yang dekat dengan Allah.Karena ini, orang yang berdoa tadi menjadi musyrik dalam mengambil perantara jika dia memohon kepada orang yang ghaib (tidak ada di hadapannya), sekecil apapun permintaan itu, sebagaimana orang yang memohon pertolongan kepada orang yang ghaib agar membantunya untuk mendaki gunung dan semisalnya.

Sama juga, ketika dia meminta kepada seseorang (yang ada di bersamanya) sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, seperti orang yang meminta ampunan untuk dosa-dosanya atau agar terhindar dari maut dan semisalnya. Dan jika meminta kepadanya sesuatu yang mampu dikerjakannya, seperti meminta kepada dokter untuk mengobatinya yang menjadi sebab kesembuhan, dan meminta sekian rupiah kepada saudaranya, maka hal ini sifatnya mubah-mubah saja.

Petunjuk yang membedakan dua hal ini adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Yang pertama yaitu ketika beliau mendatangi orang musyrikin yang meminta sesuatu kepada berhala atau kepada orang shalih yang tidak kuasa melakukannya kecuali Allah, seperti menolong dalam menghadapi musuh, begitu juga yang meminta kepada orang yang tidak ada di hadapannya, lalu beliau menjelaskan bahwa hal itu adalah kesyirikan dan kekufuran, dan Allah juga menghukumi dalam kitabnya, bahwa hal itu termasuk syirik.

Kedua, orang-orang musyrikin meminta kepada sesama mereka kebutuhan duniawi yang telah Allah jadikan sebagai sebab alamiah, seperti orang yang minta bantuan untuk melakukan satu pekerjaan dan semisalnya. Lalu Allah tidak melarangnya, bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya melakukan hal ini juga.

Bentuk pertama adalah termasuk kesyirikan berdasarkan nash Al-Qur'an, Sunnah, dan ijma'. Sedangkan bentuk kedua, perkara yang mubah berdasarkan nash Al-Qur'an, Sunnah, dan ijma'.

Contoh bentuk kesyirikan dalam mengambil perantara adalah orang yang bertawakkal kepada perantara-perantara tersebut, dan ini termasuk syirik. Banyak kaum musyrikin masa dahulu dan sekarang terjerumus ke dalamnya, khususnya orang yang mendekatkan diri kepada sesembahan selain Allah dengan bentuk memberikan sesajen dan korban. Setelah melakukan itu, dia merasa aman dari rasa takut dan mara bahaya lalu meyakini sesembahannya itu selalu menjaganya dan tidak akan menelantarkannya setelah ia mendekatkan diri kepadanya dengan beberapa sesaji dan korban tadi. Wallahu A'lam.

Oleh: Badrul Tamam

Monday, April 12, 2010

Tidak Ada Amalan Yang paling Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT Kecuali Berbakti Kepada Bonda

50 Simpulan Aqidah Yang Menguatkan Iman Kita Kepada Allah SWT

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs448.ash1/24691_1095349761171_1749405679_189361_6449693_n.jpg

50 Ikatan Aqidah Yang Wajib Kita Percayai Ialah ;

1-20 Sifat Wajib Bagi Allah SWT.

2- 20 Sifat Mustahil Bagi Allah SWT.

3- 1 Sifat Harus Bagi Allah SWT.

4- 4 Sifat Wajib Bagi Rasulullah SAW.

5- 4 Sifat Mustahil Bagi Rasulullah SAW.

6- 1 Sifat Harus Bagi Rasulullah SAW.

Selengkapnya dalam blog:

http://peribadirasulullah.wordpress.com/


Sunday, April 11, 2010

Cara Mengawal Nafsu



Oleh
Ustadz Abu Isma'il Muslim al-Atsari


Allah Ta'ala menciptakan manusia dengan disertai syahwat. Adanya syahwat pada diri manusia tidak sia-sia, akan tetapi terdapat faidah dan manfaat di dalamnya. Bahkah jika manusia tidak memiliki syahwat (selera) makan, misalnya, kemudian dia tidak makan, sehingga akan menyebabkan dirinya binasa. Demikian juga jika manusia tidak memiliki syahwat terhadap lawan jenis, maka keturunan dapat menjadi terputus.

Oleh karena itu, keberadaan syahwat pada manusia tidak tercela. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Karena ada sebagian manusia yang tidak memahami hal ini, mengira bahwa syahwat pada manusia merupakan perkara tercela, sehingga mereka berusaha meninggalkan semua yang sebenarnya diinginkan oleh jiwanya. Bahkan di antara mereka ada yang berkata: "Aku memiliki istri selama sekian tahun, aku menginginkankannya, namun aku tidak pernah menyentuhnya!" Hal seperti ini, sesungguhnya merupakan perbuatan zhalim terhadap jiwa, karena menghilangkan haknya. Padahal jiwa memiliki hak yang harus dipenuhi, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada sahabat beliau yang bernama 'Utsman bin Mazh'un Radhiyallahu 'anhu :

فَإِنِّي أَنَامُ وَأُصَلِّي وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَنْكِحُ النِّسَاءَ فَاتَّقِ اللَّهَ يَا عُثْمَانُ فَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ

"Sesungguhnya aku biasa tidur dan shalat, berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita-wanita. Maka bertakwalah kepada Allah, wahai 'Utsman, karena sesungguhnya keluargamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, tamumu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu, dan jiwamu memiliki hak yang menjadi kewajibanmu. Maka puasalah, berbukalah, shalatlah (pada sebagian waktu malam, Pen.) dan tidurlah (pada sebagian waktu malam, Pen)".[1]

Anggapan seperti ini juga merupakan penyimpangan dari keyakinan terhadap sesuatu yang halal, dan menyelisihi Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meminum madu dan minuman manis, dan itu merupakan kesukaan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Adapun sebagian manusia yang meninggalkan perkara-perkara yang mereka sukai itu dengan beralasan karena zuhud (meremehkan) terhadap dunia. Tetapi zuhud yang mereka lakukan itu diiringi dengan kebodohan terhadap agama, sehingga zuhud mereka itu tidak bernilai kebaikan. Karena mengharamkan sesuatu yang dihalalkan agama –meskipun hanya bagi dirinya sendiri- merupakan kezhaliman terhadap jiwa, bukan merupakan keadilan. Bukankah mengambil sesuatu yang halal yang disukai jiwa -pada sebagian waktu- dan untuk menguatkan jiwa, itu ibarat pengobatan bagi orang yang sakit? Dan hal itu tentu terpuji dan tidak tercela.

MENGENDALIKAN SYAHWAT PERUT
Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukai itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu memperturutkan hawa nafsunya, bahkan dia harus mengendalikannya. Di antaranya, yaitu mengendalikan syahwat perut. Karena syahwat perut ini termasuk salah satu perkara yang dapat membinasakan manusia. Syahwat ini pula yang menjadi penyebab Nabi Adam Alaihissalam dikeluarkan dari surga yang kekal. Dan dari syahwat perut ini, kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus terhadap harta benda.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (kesesatan, ujian) syahwat dan fitnah syubhat terhadap umatnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

"Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kalian, ialah syahwat mengikuti nafsu pada perut dan pada kemaluan kalian serta fitnah-fitnah yang menyesatkan".[2]

Syahwat mengikuti nafsu perut dan kemaluan merupakan fitnah syahwat, sedangkan fitnah-fitnah yang menyesatkan adalah fitnah syubhat.

Oleh karena itu seorang mukmin memiliki cara makan yang berbeda dengan orang-orang kafir.

Di dalam hadits yang shahih diriwaytakan:

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يُؤْتَى بِمِسْكِينٍ يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَدْخَلْتُ رَجُلًا يَأْكُلُ مَعَهُ فَأَكَلَ كَثِيرًا فَقَالَ يَا نَافِعُ لَا تُدْخِلْ هَذَا عَلَيَّ سَمِعْتُ النَّبِيَّ n يَقُولُ الْمُؤْمِنُ يَأْكُلُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَأْكُلُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

"Dari Nâfi', ia berkata: "Kebiasaan Ibnu 'Umar, tidak makan sehingga didatangkan seorang miskin yang akan makan bersamanya," maka aku memasukkan seorang laki-laki yang akan makan bersamanya. Laki-laki itu makan banyak, maka Ibnu 'Umar berkata: "Wahai Nâfi', janganlah engkau masukkan (lagi) orang ini kepadaku. Aku telah mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,'Seorang mukmin makan memenuhi satu usus, sedangkan orang kafir makan memenuhi tujuh usus'." [HR. Bukhari, no. 5391].

Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini. Sebagian ulama mengatakan, yang dimaksudkan oleh hadits ini ialah bukan zhahirnya. Sedangkan sebagian lain mengatakan, bahwa hadits ini benar sesuai dengan zhahirnya. Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang maknanya. Adapun makna yang tepat, ialah -sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, bahwa hadits ini sesuai dengan zhahirnya, yaitu menunjukkan kebiasaan/keadaan dominan. Maksud yang dikehendaki dengan bilangan tujuh, yaitu sebagai penekanan untuk menunjukkan banyak. Sehingga makna hadits ini, bahwa keadaan orang mukmin ialah sedikit makan, karena ia sibuk melakukan sarana-sarana ibadah, dan mengetahui tujuan makan menurut syariat, ialah untuk menghilangkan lapar, melangsungkan kehidupan, dan menguatkan ibadah. Dan karena seorang mukmin takut terhadap hisab yang disebabkan melampaui batas dalam hal makanan. Sedangkan orang kafir sebaliknya, karena tidak memahami maksud syari'at, bahkan dia mengikuti hawa nafsunya, tanpa ada rasa takut terhadap akibat-akibat keharamannya. Maka jadilah makannya seorang mukmin sepertujuh, jika dibandingkan dengan makannya orang kafir. Namun hal ini tidak berarti berlaku umum untuk semua orang mukmin ataupun orang kafir.

Terkadang di antara orang-orang mukmin ada yang makannya banyak. Bisa jadi karena kebiasaan, atau karena sesuatu yang berhubungan dengannya, seperti karena penyakit yang tidak nampak, atau lainnya. Begitu pula terkadang di kalangan orang-orang kafir ada yang makannya sedikit. Bisa jadi karena untuk menjaga kesehatan sebagaimana menurut pendapat para dokter, atau karena latihan menurut pendapat para pendeta, atau karena faktor kelemahan lambung, dan semacamnya.

Kesimpulannya, di antara keadaan orang mukmin, ialah semangat dalam berbuat zuhud dan merasa cukup dengan perbekalan. Dan ini berbeda dengan orang kafir. Sehingga, jika seorang mukmin atau seorang kafir tidak didapati berada pada sifat ini, maka bukan berarti membatalkan hadits ini".[3]

Adapun tidak disukainya banyak makan, juga disebutkan dalam sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai berikut:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

"Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukup bagi anak Adam beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada pilihan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya"[4]

Penjelasan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini ialah puncak kebaikan. Sedangkan keadilan dalam makan, yaitu menyudahi makan ketika masih ada keinginan untuk menambah. Adapun menyedikitkan makan secara terus-menerus, akan dapat menyebabkan lemahnya kekuatan. Banyak orang yang menyedikitkan makan, sehingga mereka juga melalaikan terhadap kewajiban-kewajiban agama karena faktor kebodohan. Mereka menyangka hal itu merupakan keutamaan. Padahal anggapan itu tidak benar. Adapun maksud para ulama yang menjelaskan tentang keutamaan lapar, ialah menunjukkan pada keadaan sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas. Dan para ulama, sama sekali tidak membolehkan penyimpangan terhadap syariat. Wallahul-Musta'an.

MENGENDALIKAN SYAHWAT KEMALUAN
Hendaklah kita mengetahui, syahwat terhadap lawan jenis yang diciptakan pada diri manusia memiliki hikmah dan faidah. Antara lain, ialah untuk memelihara keberlangsungan hidup manusia di muka bumi sampai waktu yang Allah kehendaki. Demikian juga agar manusia merasakan kenikmatan, yang dengan kepemilikan syahwat itu, ia dapat membandingkan kenikmatan dunia dengan kenikmatan kehidupan di akhirat. Karena orang yang belum pernah merasakan suatu jenis kenikmatan, maka ia tidak akan merindukannya. Tetapi, jika syahwat terhadap lawan jenis ini tidak dikendalikan dengan baik, akan dapat memunculkan banyak keburukan dan musibah. Karena sesungguhnya fitnah (ujian) terbesar bagi laki-laki adalah wanita, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

"Tidaklah aku menginggalkan fitnah, setelah aku (wafat), yang lebih berbahaya atas laki-laki daripada wanita".[5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari hadits ini dengan perkataan: “Hadits ini menunjukkan bahwa fitnah yang disebabkan wanita merupakan fitnah terbesar daripada fitnah lainnya. Hal itu dikuatkan firman Allah: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Qs Ali-Imran/3 ayat 14) yang Allah menjadikan wanita termasuk hubbu syahawat (kecintaan perkara-perkara yang diingini), bahkan Dia menyebutkannya pertama sebelum jenis-jenis lainnya, sebagai isyarat bahwa wanita-wanita merupakan hal utama dalam masalah itu”. (Fathul-Bari)

Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata: “Kebanyakan yang merusakkan kekuasaan dan negara, ialah karena menaati para wanita”.[6]

Sebagian orang shalih berkata: "Seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku terhadap baitul mal, aku menduga akan mampu melaksanakan amanah tersebut atasnya. Namun seandainya seseorang memberikan amanah kepadaku atas diri seorang gadis untuk bersendirian satu jam saja, aku tidak merasa aman atas diriku padanya"[7]. Karena fitnah wanita, dapat menyebabkan seseorang dapat terjerumus ke dalam berbagai kemaksiatan hingga melupakannya terhadap akhirat. Seperti memandang wanita yang bukan mahramnya, menyentuhnya, berpacaran, bahkan sampai berbuat zina.

Sesungguhnya perkara yang mudah untuk menjaga diri dari fitnah wanita sejak permulaannya, ialah sebagaimana telah diajarkan Allah Ta'ala, yaitu dengan menahan pandangan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat". [an-Nûr/24: 30]

Dalam hal ini, Allah Ta'ala juga tidak mencukupkan hanya dengan memerintahkan kepada laki-laki yang beriman saja agar menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya, tetapi Allah juga mengiringkan perintah-Nya kepada wanita-wanita:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya".[an- Nûr/24: 31].

Akan tetapi, ketika seseorang melepaskan kendali terhadap syahwatnya semenjak awal, maka di akhirnya dia akan sangat kesulitan mengatasinya. Ibarat seekor kuda yang berlari menuju ke suatu pintu yang akan dimasukinya, maka akan sangat mudah mengarahkan kuda itu dengan cara menarik kendalinya dan membelokkannya ke arah lain. Sebaliknya betapa susah, setelah kuda itu memasuki pintu tersebut, kemudian orang berusaha memegangi ekornya dan menariknya ke belakang. Alangkah besar perbedaan dua hal di atas.

Kemudian, karena beratnya menjaga dan mengendalikan fitnah syahwat ini, maka Nabi Shallallahu 'alihi wa sallam memberikan jaminan surga terhadap orang yang dapat mengendalikannya dengan baik.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

"Barang siapa menjamin untukku apa yang ada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya, niscaya aku menjamin surga baginya".[8]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: Makna "menjamin (untuk Nabi)", ialah memenuhi janji dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan dengan menjamin, sedangkan yang beliau maksudkan ialah konsekwensinya, yaitu menunaikan kewajibannya. Sehingga maknanya, barang siapa yang menunaikan kewajiban pada lidahnya, yaitu berbicara sesuai dengan kewajibannya, atau diam dari apa yang tidak bermanfaat baginya; dan menunaikan kewajiban pada kemaluannya, yaitu meletakkannya pada yang halal dan menahannya dari yang haram.

Sedangkan yang dimaksud dengan "apa yang ada di antara dua rahangnya", yaitu lidah dan apa yang dilakukannya, yaitu perkataan. Sedangkan "apa yang ada di antara dua kakinya" ialah kemaluan.

Ad-Dawudi mengatakan, "apa yang ada di antara dua rahangnya" adalah mulut. Dia mengatakan, sehingga itu meliputi perkataan, makanan, minuman dan semua perbuatan yang dilakukan dengan mulut. Dia juga mengatakan, barangsiapa berusaha menjaganya, maka ia telah aman dari semua keburukan, karena tidak tersisa kecuali pendengaran dan penglihatan". Namun masih tersembunyi baginya, yaitu memukul dengan tangan.

Sesungguhnya pengertian hadits ini berbicara dengan lidah merupakan hal utama dalam meraih semua yang dicari. Jika seseorang tidak berbicara kecuali di dalam hal kebaikan, maka dia selamat. Ibnu Baththal t berkata, hadits ini menunjukkan bahwa bencana terbesar atas seseorang di dunia adalah lidah dan kemaluannya. Sehingga barang siapa menjaga keburukan keduanya, dia telah menjaga dari keburukan yang terbesar.[9]

Maka siapa yang akan menyambut tawaran agung dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ini? Wallahul-Musta'an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. HR Abu Dawud, no. 1369 dari 'Aisyah x . Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.
[2]. HR Ahmad dari Abu Barzah al-Aslami. Dishahihkan oleh Syaikh Badrul Badr dalam ta’liq Kasyful- Kurbah, hlm. 21.
[3]. Lihat Fathul-Bari, Penerbit Darus Salâm, Riyadh (9/667-669).
[4]. HR at-Tirmidzi, no. 2380. Ibnu Majah, no. 3349. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani.
[5]. HR al-Bukhari no: 5096. Muslim, no: 2740, dan lainnya, dari Usamah bin Zaid.
[6]. Iqtidha` Shirathil-Mustaqim, hlm. 257.
[7]. Mukhtashar Minhajul-Qashidin, hlm. 213, Tahqiq: Syaikh Ali al-Halabi.
[8]. HR al-Bukhari, no. 6474. At-Tirmidzi, no. 2408; lafazh bagi Bukhari.
[9]. Fathul-Bari, syarh hadits no. 6474 secara ringkas.

Friday, April 9, 2010

Amalan Terpuji Rasulullah SAW



Gambar Hiasan : Syeikh Yasin Yang Insan Mulia

Inilah amalan Rasulullah s.a.w untuk sentiasa sihat…

1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu, sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain:
- Berlimpah pahala dari Allah
- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan / terapi penyakit TB
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jumaat beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi.
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang-orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman “(HR Muslim)

3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul: “Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)” (Muttafaq Alaih)
Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda: Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah: “Jangan Marah” diulangi sampai 3 kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah:
- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu'
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat.

:: Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah …::

Pameran Bahan Bersejarah Masjid Haram Mekah

معرض عمارة الحرمين الشريفين

يقع معرض عمارة الحرمين الشريفين في العاصمة المقدسة بام الجود بجوار مصنع كسوة الكعبة المشرفة على
طريق مكة جدة القديم

قاعة المسجد الحرام :

وهذه المقصورة التي كانت تغطي مقام ابراهيم عليه السلام قبل استبدالها في عهد خادم الحرمين الشريفين الملك
فهد بن عبدالعزيزرحمه الله

وهذه عدد من اهلة المنابر التي يعود تاريخها لعام 1299هـ

وهذا ميزاب الكعبة مصنوع من الخشب ومصفح من الخارج بالذهب ومبطن من الداخل بالرصاص ويعود
تاريخه لعام 1273هـ

كما يوجد بهذه القاعة عمود من خشب الساج وهو من اعمدة الكعبة المشرفة يعود تاريخ عمارته لعبدالله
بن الزبير رضي الله عنه عام 65هـ والرسم يوضح شكل هذه الاعمدة من داخل الكعبة المشرفة

وهذا مفتاح وقفل الكعبة من عهد السلطان العثماني عبدالحميد الثاني

وهذا باب الكعبة صنع في عهد السلطان مراد خان الرابع في الدولة العثمانية ويعود تاريخه الى 1045هـ
وهو مصنوع من الخشب ومصفح بالفضة ومطلي بالذهب

وقد استبدل هذا الباب بباب الملك عبدالعزيز ال سعود طيب الله ثراه في عام 1363هـ

وهذه اطارات الحجر الاسود يعود تاريخ احدهما لعهد السلطان مراد خان والثاني للعهد السعودي

وفي قاعة الصور الفوتوغرافية نساهد صورا جميلة لمكة المكرمة والمدبنة المنورة والمشاعر المقدسة يعود
تاريخها الى نهاية القرن الثاني عشر الهجري

وتوجد نسخ المصحف الشريف الى جانب نسخه مصورة من المصحف العثماني الذي كتب في عهد
الخليفة عثمان بن عفان رضي الله عنه

قاعة المسجد النبوي الشريف
وفيها احد الابواب الرئيسية للمسجد النبوي الشريف ويعود تاريخه للتوسعة السعودية الاولى عام 1337هـ

هلال المئذنة الرئيسية ويعود تاريخه لاوائل القرن الرابع عشر الهجري

وهذه ساعة قديمة وهي الساعة التي ارسلها السلطان العثماني عبدالحميد الاول ويعود تاريخها لعام 1277هـ

ثم قاعة بئر زمزم
وهي تضم رقبة بئر زمزم بطوقها وغطائها والبكرة لرفع ماء زمزم يعود تاريخها لاواخر القرن الرابع عشر الهجري

وهذا سطل من النحاس وجد في بئر زمزم ومؤرخ لعام 1299هـ

وهذه مزولة شمسية لتحديد اوقات الصلوات قبل ان يتم طباعة ونشر التقويم الهجري وكانت موجودة
على سطح زمزم وهي مؤرخة في عام 1023هـ

وهذه ساعة امر بشرائها الملك عبدالعزيز ال سعود رحمه الله وضعت فوق دار الحميدية عام 1352هـ

وهذه الصورة تبين موقع الساعة في ذلك الحين

Pemakmur Masjid-Masjid Allah SWT Adalah Golongan Yang Mendapat Petunjuk Allah SWT

aebadat0057


Surah At-Taubah
18. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan solat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah SWT, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Solat Adalah Pelengkap Kepada Segala Amalan Kebaikkan.

aebadat0099

Rasulullah SAW bersabda:

" Amalan yang mula-mula dihitung ke atas setiap hamba Allah SWT pada hari Qiamat, adalah solat jika dibandingkan dengan lain-lain amalan. Jika amalan solat sempurna maka sempurnalah seluruh amalan yang lain. Jika Solatnya tidak sempurna maka rosaklah segala amalan yang lain ".

Kehebatan Bersedekah Secara Rahsia

aebadat0102

Rasulullah SAW bersabda:

" Sedekah secara rahsia dapat memadam kemurkaan Allah SWT ".

Thursday, April 8, 2010

Tumit Yang Dijilat Oleh Api Neraka

http://muslimz87.blog.friendster.com/files/sifat_wudhu_rasulullah-gambar8.jpg

و حدثني ‏ ‏زهير بن حرب ‏ ‏حدثنا ‏ ‏جرير ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثنا ‏ ‏إسحق ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏جرير ‏ ‏عن ‏ ‏منصور ‏ ‏عن ‏ ‏هلال بن يساف ‏ ‏عن ‏ ‏أبي يحيى ‏ ‏عن ‏ ‏عبد الله بن عمرو ‏ ‏قال ‏
‏رجعنا مع رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏من ‏ ‏مكة ‏ ‏إلى ‏ ‏المدينة ‏ ‏حتى إذا كنا بماء بالطريق تعجل قوم عند العصر فتوضئوا وهم عجال فانتهينا إليهم وأعقابهم تلوح لم يمسها الماء فقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ويل ‏ ‏للأعقاب ‏ ‏من النار ‏ ‏أسبغوا ‏ ‏الوضوء ‏
‏و حدثناه ‏ ‏أبو بكر بن أبي شيبة ‏ ‏حدثنا ‏ ‏وكيع ‏ ‏عن ‏ ‏سفيان ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثنا ‏ ‏ابن المثنى ‏ ‏وابن بشار ‏ ‏قالا حدثنا ‏ ‏محمد بن جعفر ‏ ‏قال حدثنا ‏ ‏شعبة ‏ ‏كلاهما ‏ ‏عن ‏ ‏منصور ‏ ‏بهذا الإسناد ‏ ‏وليس في حديث ‏ ‏شعبة ‏ ‏أسبغوا ‏ ‏الوضوء وفي حديثه ‏ ‏عن ‏ ‏أبى يحيى الأعرج ‏



Hadis Abdullah bin Amru r.a katanya:
Suatu hari, kami pulang bersama Rasulullah s.a.w dari Mekah menuju ke Madinah. Di pertengahan jalan, apabila kami tiba di suatu tempat yang mempunyai air kami dapati sekelompok manusia dalam keadaan tergesa-gesa mengambil wuduk kerana waktu Asar hampir luput. Apabila kami menghampiri mereka, kami dapati tumit-tumit mereka kering tidak dibasahi air. Maka Rasulullah s.a.w telah bersabda: Celakalah tumit-tumit yang tidak basah itu dengan ancaman api Neraka. Sempurnakanlah wuduk kamu dengan baik

Rasulullah Mencium Isteri Baginda Semasa Berpuasa






حدثني ‏ ‏علي بن حجر ‏ ‏حدثنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏عن ‏ ‏هشام بن عروة ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏عائشة ‏ ‏رضي الله عنها ‏ ‏قالت ‏
‏كان رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يقبل إحدى نسائه وهو صائم ثم تضحك ‏

Hadis Saidatina Aisyah r.a katanya:
Rasulullah s.a.w mencium salah seorang isteri baginda sewaktu sedang berpuasa lalu baginda tersenyum
.

Wednesday, April 7, 2010

Agar Ibadah Diterima di Sisi Allah SWT





Allah yang Maha Bijaksana tentulah tidak menciptakan sesuatu kecuali dengan hikmah yang agung. Alloh berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56). Mungkin kita sudah hafal tujuan tersebut karena sering kita dengar, tapi pernahkah terlintas di benak kita apakah ibadah kita itu diterima ataukah tidak? Maka, tidak ada seorang pun yang dapat menjamin hal ini, sehingga sudah seharusnya bagi tiap mukmin untuk beramal dengan senantiasa berharap dan cemas. Berharap agar ia mendapat ridha Allah serta janji-janji yang sudah ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan cemas kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Dan janganlah ia berdecak kagum atas amal yang ia lakukan dan merasa bahwa ibadahnya pasti diterima.

Ingatlah firman Allah, “Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Iaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103, 104). Siapakah yang lebih rugi dari orang semacam ini? yang telah beramal dengan susah payah sewaktu masih hidup di dunia tapi ternyata sia-sia dan tidak diterima oleh Alloh Ta’ala.

Apakah Makna Ibadah?

Ibadah secara bahasa bermakna merendahkan diri dan tunduk. Sedang secara istilah, ulama banyak memberikan makna. Namun makna yang paling lengkap adalah seperti yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu: Suatu kata yang meliputi segala perbuatan dan perkataan; zhohir maupun batin yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala. Dengan demikian ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu: ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan.

Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Ketahuilah, semua amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi dua syarat, yaitu Ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam). Kedua syarat ini terangkum dalam firman Allah, “…Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al Kahfi: 110). Beramal saleh maksudnya yaitu melaksanakan ibadah sesuai dengan tata cara yang telah diajarkan oleh Nabi, dan tidak mempersekutukan dalam ibadah maksudnya mengikhlashkan ibadah hanya untuk Allah semata.

Hal ini diisyaratkan pula dalam firmanNya, “(Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqoroh: 112). Menyerahkan diri kepada Alloh berarti mengikhlashkan seluruh ibadah hanya kepada Allah saja. Berbuat kebajikan (ihsan) berarti mengikuti syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syarat pertama (ikhlash) merupakan konsekuensi dari syahadat pertama (persaksian tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata). Sebab persaksian ini menuntut kita untuk mengikhlashkan semua ibadah kita hanya untuk Alloh saja. Sedang syarat kedua (mutaba’ah) adalah konsekuensi dari syahadat kedua (persaksian Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai hamba dan utusan-Nya).

Ikhlash dalam Ibadah

Seluruh ibadah yang kita lakukan harus ditujukan untuk Allah semata. Walaupun seseorang beribadah siang dan malam, jika tidak ikhlash (dilandasi tauhid) maka sia-sialah amal tersebut. Allah berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan solat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Maka sungguh beruntunglah seseorang yang selalu mengawasi hatinya, kemanakah maksud hati tatkala ia beribadah, apakah untuk Allah, ataukah untuk selain Allah. Perhatikanlah jenis amal-amal berikut:

Amalan riya’ semata-mata, yaitu amalan itu dilakukan hanya supaya dilihat makhluk atau karena tujuan duniawi. Amalan seperti ini hangus, tidak bernilai sama sekali dan pelakunya pantas mendapat murka Allah. Amalan yang ditujukan kepada Allah dan disertai riya’ dari sejak awalnya, maka nash-nash yang sahih menunjukkan amalan seperti ini bathil dan terhapus. Amalan yang ditujukan bagi Allah dan disertai niat lain selain riya’. Seperti jihad yang diniatkan untuk Allah dan karena menghendaki harta rampasan perang. Amalan seperti ini berkurang pahalanya dan tidak sampai batal dan tidak sampai terhapus amalnya.

Amalan yang awalnya ditujukan untuk Allah kemudian terbesit riya’ di tengah-tengah, maka amalan ini terbagi menjadi dua, jika riya’ tersebut terbersit sebentar dan segera dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Namun jika riya’ tersebut selalu menyertai amalannya maka pendapat terkuat diantara ulama salaf menyatakan bahwa amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana pendapat Hasan Al Bashri. Namun dia tetap berdosa karena riya’nya tersebut dan tambahan amal (perpanjangan amal karena riya’) terhapus. Sedang amal yang ikhlash karena Alloh kemudian mendapat pujian sehingga dia senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-apa terhadap amalnya.

Beribadah Hanya Dengan Syari’at Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketahuilah, ibadah bukanlah produk akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan sesuatu yang diridhai Allah, dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhai Allah kecuali setelah Allah kabarkan atau dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seluruh kebaikan telah diajarkan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, tidak tersisa sedikit pun. Tidak ada dalam kamus ibadah sesorang melaksanakan sesuatu karena menganggap ini baik, padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan. Sehingga tatkala ditanya, “Mengapa engkau melakukan ini?” lalu ia menjawab, “Bukankah ini sesuatu yang baik? Mengapa engkau melarang aku dari melakukan yang baik?” Saudaraku, bukan akal dan perasaanmu yang menjadi hakim baik buruknya. Apakah engkau merasa lebih taqwa dan sholih ketimbang Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Ingatlah sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melakukan satu amalan (ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah, ibadah kita harus mencocoki tatacara Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hal:

Sebabnya. Ibadah kepada Alloh dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima. Contoh: Ada orang melakukan sholat tahajjud pada malam dua puluh tujuh bulan Rojab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’roj Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Sholat tahajjud adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab yang tidak ditetapkan syari’at maka sholat karena sebab tersebut hukumnya bid’ah.

Jenisnya. Artinya ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya, contoh seseorang yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi syari’at dalam jenisnya. Jenis binatang yang boleh dijadikan kurban adalah unta, sapi dan kambing.

Kadar (bilangannya). Kalau ada seseorang yang sengaja menambah bilangan raka’at sholat zhuhur menjadi lima roka’at, maka sholatnya bid’ah dan tidak diterima, karena tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan roka’atnya. Dari sini kita tahu kesalahan orang-orang yang berdzikir dengan menenentukan jumlah bacaan tersebut sampai bilangan tertentu, baik dalam hitungan ribuan, ratusan ribu atau bahkan jutaan. Mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali capek dan murka Alloh.

Kaifiyah (caranya). Seandainya ada seseorang berwudhu dengan cara membasuh tangan dan muka saja, maka wudhunya tidak sah, karena tidak sesuai dengan cara yang ditentukan syariat.

Waktunya. Apabila ada orang menyembelih binatang kurban Idul Adha pada hari pertama bulan Dzulhijjah, maka tidak sah, karena syari’at menentukan penyembelihan pada hari raya dan hari tasyriq saja.

Tempatnya. Andaikan ada orang beri’tikaf di tempat selain Masjid, maka tidak sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah di Masjid.

Wahai saudaraku… Marilah kita wujudkan tuntutan dua kalimat syahadat ini, yaitu kita menjadikan ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untuk Alloh dan kita beribadah hanya dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam setiap tarikan nafas dan detik-detik kehidupan kita, semoga dengan demikian kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur, bertaqwa dan diridhoi-Nya. Wallohu a’lam bish showaab.

***

Penulis: Bambang Abu Abdirrohman Al Atsary Al Bayaty
Artikel www.muslim.or.id

Tuesday, April 6, 2010

Pertanyaan Alam Kubur


Pertanyaan Alam Kubur (Siapkah kita menghadapinya???)




Oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

[Dinukil dari kitab Syarah Aqidah Al Wasithiyah bab al iman bil yaumil akhir, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Edisi Indonesia Ada Apa Setelah Kematian? Menelusuri Kejadian-Kejadian Setelah Hari Kiamat, Penerjemah Abu Hafsh 'Umar Sarlam Al Atsary, Penerbit Pustaka Al Manshurah Poso, hal. 32-37]

Berkata penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Maka dikatakan kepada mayit tersebut, “Siapa Rabbmu? Dan apa agamamu? Dan siapa nabimu?”

Perkataan beliau, “Siapa Rabbmu?” Yakni siapakah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan engkau beribadah kepada-Nya dan yang engkau khususkan dalam beribadah? terangkum dalam kalimat ini tauhid rububiyah dan uluhiyah.

Perkataan beliau, “Apa agamamu?” Yakni apakah amalanmu yang engkau engkau beragama dengannya untuk Allah Ta’ala dan mendekatkan diri kepada-Nya?

Perkataan beliau, “Siapakah nabimu?” Yakni siapakah nabi yang engkau beriman dengannya dan engkau mengikutinya?

Berkata penulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:

Maka Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 27)

Yakni Allah Subhanahu wata’ala jadikan mereka teguh dan tidak ragu-ragu, tidak bimbang dalam menjawab. Perkataan yang teguh (al Qoulutstsaabit) adalah kalimat tauhid (Laa Ilaaha illallah), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (Ibrahim: 24)

Tentang firman Allah Ta’ala, “dalam kehidupan di dunia dan di akhirat” kemungkinan pertama (jar dan majrur) berkaitan dengan kata yutsabbit yakni bermakna sesungguhnya Allah Ta’ala meneguhkan seorang mukmin di dunia dan akhirat. Kemungkinan kedua adalah berkaitan kata atstsaabit sehingga menjadi sifat bagi perkataan tersebut yakni bahwasanya perkataan tersebut akan tetap teguh di dunia dan akhirat.

Akan tetapi makna pertama yang lebih baik dan benar karena Allah Azza wajalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (al Anfaal: 45)

Dan Allah Azza wajalla berfirman,

إِذْ يُوحِي رَبُّكَ إِلَى الْمَلائِكَةِ أَنِّي مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِينَ آمَنُوا سَأُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوا فَوْقَ الأعْنَاقِ وَاضْرِبُوا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (al Anfaal: 12)

Maka mereka orang-orang yang beriman itu tetap teguh di kehidupan dunia dan akhirat dengan perkataan yang tsabit tersebut (kalimat Laa Ilaaha illallah)

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

Maka orang Mukmin akan berkata, “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan Muhammad nabiku.”

Maka seorang Mukmin akan berkata, “Rabbku Allah” ketika ditanya siapa Rabbmu. Dia akan berkata, “agamaku Islam” ketika ditanya apa agamamu? Demikian pula dia akan menjawab, “Muhammad nabiku” ketika dia ditanya siapa nabimu? Maka ketika itu jawabannya telah benar sehinnga ada penyeru dari langit, “Telah benar hamba-Ku maka bentangkanlah tempat tinggalnya di surga, pakaikanlah pakaian dari surga dan bukalah pintu surga untuknya.”

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

Adapun orang yang ragu-ragu dia akan berkata, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.”

Orang yang ragu di sini adalah orang-orang yang bimbang, munafik, dan orang yang semisalnya. Perkataan beliau, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Yakni karena belum masuknya keimanan dalam hatinya, semata-mata dia mengucapkan seperti ucapannya manusia tanpa ada keimanan yang tersambung ke hatinya.

Perhatikan perkataan orang tersebut, “Hah…hah.” Seolah-olah ada sesuatu yag hilang dari ingatannya, dan dia ingin mengingat-ingatnya. Maka ini adalah kerugian yang sangat, seolah-olah dikhayalkan bahwa dia mengetahui jawabannya akan tetapi dia terhalangi darinya. Sehingga mengucapkan, “Hah…hah… aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Dia tidak mampu berkata, “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan Muhammad nabiku.” Karena ketika di dunia dia dalam keadaan ragu dan bimbang.

Apabila ditanya di kuburnya maka dia menjadi sangat butuh dengan jawaban yang benar akan tetapi dia tidak mampu dan berkata, “aku tidak tahu. Aku mendengar manusia mengatakan sesuatu maka akupun ikut mengatakannya.” Kalau demikian imannya cuma di lisan saja.

Berkata penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):

Maka dia dipukul dengan mirzabah dari besi dan berteriak dengan teriakan yang didengar semua makhluk selain manusia.

Dipukul karena dia tidak mampu menjawab, sama saja apakah orang kafir atau munafik. Dan yang memukul adalah dua orang malaikat yang menanyainya.

Mirzabah adalah pemukul dari besi, dan di suatu riwayat kalau seluruh penduduk Mina berkumpul untuk memikulnya maka mereka tidak mampu memikulnya. Apabila dia dipukul maka akan berteriak dengan teriakan yang terdengar oleh semua makhluk kecuali manusia.

Perkataan beliau, “Dipukul maka dia berteriak” yakni dengan teriakan yang terdengar oleh segala sesuatu yang ada di sekelilingnya, bukan segala sesuatu di seluruh penjuru dunia. terkadang yang mendengarnya akan terpengaruh dengannya, sebagaimana nabi Shallallahu’alaihi wasallam pernah melewati kuburan Musyrikin dari atas keledainya, maka keledai tersebut lari menjauh sampai hampir melemparkan beliau Rasulullah صلى الله عليه وسلم karena keledai tersebut mendengar suara orang yang diadzab. (Riwayat Muslim no. 2867 dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه)

Sumber:

http://aththaifahalmanshurah.salafy.ws/2010/03/31/pertanyaan-alam-kubur/

Syurga Hanya Untuk Mereka Yang Bersih



ألاسلام نظيف , فتنظفوا , فإنه لا يدخل الجنة إلا نظيف رواه الديلمى

Islam itu bersih, maka hendaklah kamu bersih, sesungguhnya seseorang itu, tidak dapat masuk syurga melainkan orang yang bersih.

تحذيب أطراف الحديث: 56

Saturday, April 3, 2010

Gambar Nabi Muhammad SAW Mengikut Aqidah Kristian

http://zombietime.com/mohammed_image_archive/euro_medi_ren/Mahumeth.jpg




http://zombietime.com/mohammed_image_archive/euro_medi_ren/Dendermonde1.jpg





Sila layari:

http://zombietime.com/mohammed_image_archive/misc_mo/

Gambar yang lebih dahsyat

http://zombietime.com/mohammed_image_archive/islamic_mo_full/

http://zombietime.com/mohammed_image_archive/islamic_mo_face_hidden/

Sila layari sendiri..tidak sanggup saya melihat Rasullullah SAW dihina sebegini.....

http://zombietime.com/mohammed_image_archive/euro_medi_ren/



Click here to return to the main Mohammed Image Archive page

Other Archive Sections:
Islamic Depictions of Mohammed in Full
Islamic Depictions of Mohammed with Face Hidden
European Medieval and Renaissance Images
Miscellaneous Mohammed Images
Dante's Inferno
Book Illustrations
Book Covers
Satirical Modern Cartoons
The Jyllands-Posten Cartoons
Recent Responses to the Controversy
Extreme Mohammed
Email Responses from Readers
Links

Friday, April 2, 2010

Rokok Mengandungi Bahan Daripada Babi

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/mumtaz/rokok-babi.jpg&h=235&w=355&zc=1

BELANDA [voa-islam.com] – Kabar penting ini harus dicamkan bagi para perokok yang alergi terhadap fatwa haram merokok. Sebuah penelitian ilmiah mengungkap, bahwa dari sebuah jasad babi ternyata bisa diolah menjadi 185 produk, di antaranya adalah untuk rokok.

Penemuan penggunaan darah babi dalam pembuatan filter rokok ditemukan peneliti Belanda, Christien Meindertsma, secara tak sengaja. Perempuan ini sebenarnya sedang meneliti seekor babi berkode "Pig 05049" di sebuah peternakan di Belanda.

Di laman pribadinya, Meindertsma menyatakan telah meriset selama tiga tahun semua produk yang dihasilkan dari seekor babi tersebut. Hasil riset itu kemudian dibukukan, lengkap dengan grafik dan gambar produk, kemudian dipamerkan dalam sebuah pameran.

Tujuannya sederhana, menunjukkan pada orang bagaimana sebuah produk dibuat dan "dibungkus" dan dari mana dia berasal, sehingga orang bisa tahu. Untuk menunjukkan itu, Meindertsma mendekati subjek ke skala satu ekor binatang yang dalam hal ini seekor babi bernama "Pig 05049."

...Meindertsma mencatat jasad babi itu menjadi 185 produk berbeda! Mulai dari rokok, bubuk mesiu, cat mobil, permen karet, porselen, yogurt, kosmetik, kondisioner, sampai biodiesel. Tak lupa Meindertsma menampilkan foto-foto produk itu....

Setelah kematian babi tersebut, jasadnya dikapalkan dalam beberapa bagian ke penjuru dunia. Beberapa bagiannya tetap dalam bentuk dan fungsi aslinya (sebagai daging), sebagian lagi berubah secara dramatis.

Meindertsma mengikuti produk itu, mulai dari perusahaan yang menangani hewan mati sampai ke perusahaan kecil yang memproduksi sesuatu menggunakan bagian dari jasad itu. Perempuan itu mencatat jasad babi itu menjadi 185 produk berbeda! Mulai dari rokok, bubuk mesiu, sabun, obat, kertas foto, katup jantung, cat mobil, permen karet, porselen, yogurt, marshmellow, kosmetik, kondisioner, sampai biodiesel. Tak lupa Meindertsma menampilkan foto-foto produk itu.

Apa pelajaran yang diperoleh perempuan asal Rotterdam ini? "Banyak tahapan antara bahan mentah dan produk akhir di produksi komersil modern. Karena banyak tahapan, pengetahuan menghilang. Sebagai contoh, peternak babi tak tahu semua produk akhir yang terbuat dari babi mereka karena mereka tak tahu babi itu dibawa ke mana," kata perempuan 29 tahun lulusan Akademi Desain Eindhoven itu.

Meindertsma pun sekarang memilih produk yang diproduksi secara lokal. Baju hangatnya sekarang buatan Belanda, bukan lagi Selandia Baru.

Dan ketekunan Meindertsma membuahkan sebuah penghargaan: Index Award 2009. Dan risetnya juga menggelinding menjadi soal sensitif: terungkapnya 185 produk mengandung babi yang diharamkan Islam dan Yahudi.

Ada Darah Babi di Filter Rokok

Di tempat terpisah, seorang peneliti di Australia melansir penelitian mengenai rokok yang diduga mengandung darah babi. Kandungan babi yang diharamkan umat Islam ini ditemukan di filter rokok.

Profesor di bidang Kesehatan Publik, Universitas Sydney, Simon Chapman, menunjuk pada riset terbaru yang mengidentifikasi 185 penggunaan bagian dari babi, termasuk dalam pembuatan filter rokok. Penemuan ini, kata Chapman kepada News.com.au, bisa berdampak pada kelompok Islam dan Yahudi.

...Riset terbaru mengidentifikasi 185 penggunaan bagian dari babi, termasuk dalam pembuatan filter rokok...

"Komunitas Yahudi jelas akan menilai masalah ini sangat serius dan komunitas Islam akan menilainya sangat mengganggu," kata Chapman, Rabu 31 Maret 2010.

Penemuan ini, kata Chapman, membuka bobrok industri rokok yang tidak diwajibkan mencantumkan komposisi dalam rokok. "Mereka mengatakan, "ini bisnis kami dan sebuah rahasia dagang"."

Darah babi ini, kata Chapman, setidaknya ditemukan di satu mereka rokok dijual di Yunani. Darah babi dipastikan dipakai dalam pembuatan rokoknya.

Sebuah riset di Belanda menemukan darah babi ini dipakai untuk membuat filter lebih efektif menangkap kimia berbahaya sebelum asap masuk ke tenggorokan. Artinya, temuan ini jelas tak berlaku untuk rokok yang tidak menggunakan filter.

MUI: Jika Mengandung Babi, Rokok Haram Mutlak

Menanggapi temuan riset di Belanda tentang adanya hemoglobin babi dalam filter rokok, langsung menjadi kajian ulama di berbagai negara. Jika filter rokok di Indonesia mengandung bahan yang sama, Majelis Ulama Indonesia siap menyatakan haram mutlak.

"Kalau rokok dengan filter dari darah babi itu jadinya haram mutlak," kata Ketua MUI Ma'ruf Amin, Kamis (1/4/2010).

Terkait dengan temuan riset terbaru itu, MUI akan segera meminta masukan dari berbagai pihak. "Kita akan meminta masukan banyak pihak yang bisa menjelaskan hal ini," jelasnya.

Menurut Ma'ruf, hasil dari Ijtima Ulama MUI menyimpulkan rokok adalah ikhtilaf. Artinya rokok ada di tengah-tengah antara posisi makruh dan haram. Ulama sepakat mengharamkan rokok dalam 3 situasi.

"Yang sudah diharamkan itu merokok di tempat umum, merokok bagi ibu hamil, dan merokok bagi anak-anak," pungkas Ma'ruf. [taz/viva]

Ayat Al-Quran dan Hadis Rasulullah SAW Tentang Nyanyian

http://vthumb.ak.fbcdn.net/vthumb-ak-sf2p/v10824/78/24/551910619/t551910619_424938520619_876.jpg

1 – قال تعالى :
(( وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ )) .لقمان 6

✿✿ ✿✿
6. Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.


-فسر الإمام مجاهد - رحمه الله – لهو الحديث : بأنه الإستماع إلى الغناء وإلى مثله من الباطل .
✿✿ ✿✿

Mendengar pada nyanyian membawa kepada kebatilan sepertimana yang maksud yang terkandung dalam nyanyian tersebut.

-وقال بن مسعود – رضي الله عنه – عن لهو الحديث الذي في الآية : والله الذي لا إله الا هو ، والله الذي لا إله الا هو ، والله الذي لا إله الا هو إنه الغناء .
✿✿ ✿✿
Orang yang menyanyi dia hidup tanpa tuhan.

-وقال الحسن – رحمه الله - : لهو الحديث هو المعازف والغناء .
Diantara perbuatan yang melalaikan adalah pemain biola dan penyanyi.
✿✿ ✿✿


2 – قال تعالى :
(( وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِم بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ.... )) . الإسراء 64
64. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka[861].

[861]. Maksud ayat ini ialah Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Tetapi segala tipu daya syaitan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.


-قال بن عباس – رضي الله عنهما - : صوت الشيطان : هو الغناء .

✿✿ ✿✿
Suara syaitan adalah nyanyian.

3 – قال تعالى : (( أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ (59) وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ (60) وَأَنْتُمْ سَامِدُونَ (61) )) . النجم
59. Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini?

60. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?
61. Sedang kamu melengahkan(nya)?




-قال بن عباس – رضي الله عنهما - : السمود : هو الغناء .

-قال عكرمة – رحمه الله - : كانوا إذا سمعوا القرآن تغنوا ليصدوا الناس عن القرآن بالغناء .

✿✿ ✿✿


أدلة تحريم الموسيقى

1 – أخرج البخاري في صحيحه عن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : (( ليكونن من امتي أقوام يستحلون الحر ، والحرير ، والخمر والمعازف ))

-ومعنى يستحلون : أي أنها كانت محرمة .

✿✿ ✿✿


-وهنا وضع النبي صلى الله عليه وسلم المعازف مع الأشياء المقطوع بحرمتها فإنه وضعها مع ( الزنا والخمر والحرير للرجال )

✿✿ ✿✿

2 – وصح عن الترمذي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : (( نهيت عن صوتين أحمقين فاجرين صوت عند نعمة ولهو ولعب ومزامير شيطان وصوت عند مصيبة لطم وجوه وشق جيوب )) .

✿✿ ✿✿


ومن عظم خطر الغناء والموسيقى توعد النبي صلى الله عليه وسلم سماع الغناء والمعازف بالمسخ والقذف وروى الترمذي بسند صحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم قال (( يكون في أمتي خسف وقذف ومسخ .. قيل يل رسول الله متى ؟ . قال : إذا ظهرت القينات والمعازف واستحلت الخمر )) .

✿✿ ✿✿


وقال صلى الله عليه وسلم ليكونن من أمتي أقوام ، يستحلون الحر والحرير ، والخمر والمعازف ، ولينزلن أقوام إلى جنب علم ، يروح عليهم بسارحة لهم ، يأتيهم - يعني الفقير - لحاجة فيقولوا : ارجع إلينا غدا ، فيبيتهم الله ، ويضع العلم ، ويمسخ آخرين قردة وخنازير إلى يوم القيامة


✿✿ ✿✿

فتخيلي أختي المسلمة كيف يكون حال مرتكبي هذه المعصية إذا أمر الله بنزول العذاب – هذا في الدنيا – وعذاب الآخرة أشد وأبقى .

✿✿ ✿✿


أقوال السلف في تحريم الغناء

1 – يقول شيخ الاسلام بن تيمية – عليه رحمة الله - : ( اتفق الأئمة الأربعة على تحريم المعازف التي هي آلات اللهو كالعود ونحوه ) .

✿✿ ✿✿

2 – يقول عثمان بن عفان – رضي الله عنه - : ( ما تغنيت قط ) .

-فتبرأ من الغناء وافتخر بتركه

✿✿ ✿✿


3 – يقول بن مسعود – رضي الله عنه - : ( الغناء ينبت النفاق في القلب كما ينبت الماء البقل ) .

✿✿ ✿✿

4 – وعندما سأل محمد بن القاسم – رحمه الله – شيخه الإمام مالك – عليه رحمة الله – عن الغناء . فأجاب الإمام بقوله : ألم يقل الله تبارك وتعالى : ( فماذا بعد الحق إلا الضلال ) ؟؟

والغناء ليس بحق إذن فهو من الضلال .

✿✿ ✿✿


5 – وسئل عمن يرخص في الغناء . فقال : إنما يفعله الفساق .

✿✿ ✿✿


6 – وسأل – رحمه الله - عن رجل اشترى جارية وتبين له أنها مغنية . قال : من حقه أن يردها لبائعها بالعيب الذي ظهر فيها .
✿✿ ✿✿


7 – وسئل الفضيل بن عياض – رحمه الله – عن الغناء فقال : الغناء رقية الزنا .

✿✿ ✿✿


8 – يقول الإمام أبو حنيفة عن الغناء : الغناء معصية توجب فسق صاحبها ورد شهادته .
✿✿ ✿✿


9 – وسئل الإمام أحمد بن حنبل عن الغناء فقال : الغناء ينبت النفاق في القلب ويفعله الفساق عندنا .
✿✿ ✿✿


وبعد أن تبين لكِ أخى المسلم... أختي المسلمة قول الله عز وجل وقول نبيه صلى الله عليه وسلم وقول أصحابه رضي الله عنهم وقول السلف الأئمة عليهم رحمة الله في تحريم الغناء والموسيقى ( المعازف ) ..... سارع بأن تلحق بركب من قالوا :

( سمعنا وأطعنا وأولئك هم المفلحون ) .
✿✿ ✿✿

فلن ينفعك إلا سيرك معهم فنهاية طريقهم رضا مولاهم وجنة ربهم .....

✿✿ ✿✿


ختاما

أخى المسلم ....أختى المسلمة

أذكرك بحديث النبي صلى الله عليه وسلم الذي رواه النعمان بن بشير رضي الله عنهما :-
(( إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه ومن وقع في الشبهات فقد وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ألا وإن لكل ملك حمى ألا وإن حمى الله محارمه ....... )) . رواه البخاري ومسلم .

✿✿ ✿✿
* فتأمل قوله صلى الله عليه وسلم :
" لا يعلمهن كثير من الناس " أي القلة هم الذين يعلمونها ولذلك مدح الله سبحانه القلة في اكثر من موضع في كتابه عز وجل .....
- فقال تعالى : (( وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ ))
سبأ 13
- وقال تعالى : (( إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ.... )) ص 24
فالحق بركب القلة لتمدحي معهم وتكوني ممن قال عنهم النبي صلى الله عليه وسلم : ( طوبى للغرباء )
✿✿ ✿✿


ولا تغتر بالكثرة وتقول
( كل الناس خطأ وأنتم أيها القلة المتشددون الصواب ؟؟ )
فنقول لكِ : أن الكثرة ما ذكرت إلا مذمومة

✿✿ ✿✿

واخيرا

إعلم أن الدنيا زائلة ... زائلة لا محالة وإن طالت وقد تزول الآن ... وقد تزول اليوم .. وقد تزول غدا ... الله أعلم متى الزوال ؟؟ المهم انها ستزول إما عاجلا ... وإما آجلا .. فمهما تمتعت بأمور قد لا أقول أنها محرمة ولكن اختلف العلماء في تحريمها فهي إلى زوال .
✿✿ ✿✿


فاحرص على ما يدوم وآثره على ما يزول وإن كان مباحا .

✿✿ ✿✿


واعلم ايضا أنك محتاج لرحمات الله عز وجل في الدارين وبقدر ورعك تنال تلك الرحمات من رب الأرض والسماوات .

✿✿ ✿✿

واحذر أن يلتبس عليكِ هذا المعنى مع قول الصحابي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه ما خير بين أمرين إلا إختار ايسرهما . فإن ذلك كان في مباحات الأمور لا في الأمور الشرعية لأنه صلى الله عليه وسلم الذي قال :-

( فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه ) .
( فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه )
( فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه )

فاستبرؤا لدينكم و عرضكم ان كنتم تخافون يوما تتقلب فيه الابصار